Mei 20, 2020

3 Penyajian Teh Unik Untuk Teman Dirumah

Siapa yang tidak kenal dengan teh? Minuman berkhasiat asal Tiongkok ini dipercaya memiliki segudang manfaat, salah satunya untuk menenangkan pikiran dikala stress hingga menurunkan berat badan. Yuk cari tahu teh apa saja yang wajib dicoba untuk menemani aktivitas #dirumahaja !


1.  Flavoured Tea
Masala Chai
Flavoured Tea merupakan daun teh yang diracik dengan penambahan bunga, buah, maupun bumbu herbal untuk melahirkan rasa teh yang tidak terlalu pekat, rasa dan aroma yang dihasilkan dari Flavoured Tea juga lebih beragam.

Daun teh yang biasa digunakan merupakan daun teh hijau atau teh hitam, sehingga kaya akan anti oksidan yang dapat digunakan tubuh untuk melawan radikal bebas. Di Indonesia, Teh yang biasa kita kenal adalah Teh Melati yang berasal dari Tiongkok. Selain itu, ada Earl Grey dari Inggris dengan aroma citrus dan teh rempah Masala Chai dari India yang wajib dicoba karena rasa dan aromanya yang unik.


2.  Herbal Infusions Tea
Chinese Blooming Flower
Teh yang biasa kita kenal biasanya hanya terbuat dari daun teh yang dikeringkan, namun berbeda dengan Herbal Infusions Tea. Teh ini diproses dengan infusi herbal menggunakan tumbuhan lain, seperti bunga atau buah-buahan. Uniknya, proses infusi bahan-bahan ini digunakan sebagai perasa alami pada teh, sehingga biasanya berasa manis dan asam.

Selain kaya akan anti-oksidan dan vitamin, Herbal Infusions Tea dapat digunakan untuk mengurangi insomnia, menurunkan tekanan darah dan meningkatkan mood dikala bosan dirumah. Salah satu teh yang bisa kita coba adalah Teh Bunga Rosella, Teh Moringa, dan Teh Bunga Chamomile.






3.  Fruit Infused Tea
Berry Infused Tea
Beberapa tahun yang lalu kita mengenal tren Infused Water sebagai salah satu cara menurunkan berat badan, namun ternyata penambahan teh menjadi daya tarik baru untuk memperkaya rasa dan aroma dari Infused Water, dikenal dengan nama Fruit Infused Tea.

Teh ini bisa diracik dengan menyeduh teh favorit, lalu ditambahkan potongan buah segar seperti potongan apel maupun nanas, tambahkan es batu untuk mendinginkan temperatur tubuh disiang hari. Kita akan menemukan aroma menyegarkan dari buah dan efek menenangkan dari ekstraksi teh.


Jadi, tertarik untuk mencobanya?

Maret 08, 2019

Mengupas Kebiasaan Minum Air Panas Masyarakat Tiongkok


         Belajar dan menuntut ilmu diluar negeri tidak akan bisa lepas dari mengenal dan belajar budaya baru di negara tujuan, salah satunya Tiongkok. Negeri yang menyimpan sejarah lebih dari 5000 tahun ini memiliki keunikan tersendiri bagi para pelancong internasional dan ekspatriat dari luar Tiongkok. Makanan yang beragam, bahasanya yang konkrit dan karakteristik masyarakat lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi pelajar internasional, tak terkecuali dari Indonesia. Sebagai salah satu pelajar yang sedang menuntut ilmu di Tiongkok, banyak hal dan budaya-budaya lokal yang menjadi karakteristik dan selalu melekat pada negeri tirai bambu ini.

        Tahun lalu, media lokal Tiongkok pernah digegerkan dengan pidato kelulusan mahasiswa asing dari salah satu universitas di Shanghai. Melalui video tersebut, beliau banyak menuturkan kehidupan pribadinya di Tiongkok serta bagaimana unik dan kentalnya kultur masyarakatnya dengan kebiasaan minum air panas (开水). Mahasiswa asal Italia tersebut menuturkan “中国的开水害的不得了” (Air panas Tiongkok benar-benar mujarab). “Saat saya demam, teman-teman lokal saya selalu menyarankan saya untuk minum air panas, saat saya sakit kepala, mereka juga menyarankan saya untuk minum air panas, saat sakit tenggorokan juga minum air panas, bahkan saat merasa tertekan juga harus minum air panas, air panas Tiongkok benar-benar mujarab.”

       Bagi mahasiswa asing maupun pekerja yang sedang berada di Tiongkok, pasti tidak asing lagi dengan kebiasaan minum air panas masyarakatnya, mulai dari banyaknya dispenser air panas yang disediakan di lorong-lorong kelas, kantor, stasiun kereta, bandara, dan  tempat-tempat umum, restoran dan tempat makan yang hanya menyajikan sup hangat atau air panas untuk para tamu-tamunya, atau bahkan hingga kebiasaan membawa termos air panas kemanapun pergi. Lalu, sebenarnya apa yang mempelopori masyarakat lokal untuk selalu minum air panas bahkan dimusim panas sekalipun

Pengobatan Tradisional Tiongkok
       Dalam ilmu pengobatan tradisional masyarakat Tiongkok, setiap manusia memiliki elemen yin dan yang. Manusia dinyatakan sehat jika elemen yin dan yang dalam keaadan stabil dan seimbang, jika elemen yang pada tubuh manusia terlalu banyak, maka akan meningkatkan suhu tubuh dan tubuh akan mudah terserang penyakit, untuk  menyembuhkan penyakit ini, seseorang harus menurunkan kelebihan elemen yang, atau dengan cara menurunkan suhu panas di dalam tubuh yaitu dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang masuk dalam kategori elemen yin

      Air panas merupakan salah satu minuman berelemen yin dan dipercaya mampu untuk menurunkan kadar panas pada tubuh seseorang, memulihkan keseimbangan tubuh dan menstabilkan metabolisme tubuh. Walaupun dianggap sedikit aneh dengan memberikan tambahan panas pada tubuh saat tubuh sedang panas, nyatanya orang-orang Tiongkok percaya dengan khasiat minum air panas dapat menurunkan gejala panas dalam maupun demam.

      Selain itu, pengobatan tradisional Tiongkok juga menyarankan untuk mengkonsumsi air panas setelah bangun tidur dan setelah makan, hal ini dipercaya untuk melancarkan metabolisme peredaran darah, detoksifikasi dan menstimulasi sistem pencernaan.

Sisi Historis Air Panas
       Berdasarkan bukti sejarah, orang-orang Tiongkok telah mengkonsumi air panas sejak abad ke-4 sebelum masehi, pada masa Tiongkok kuno, standar hidup yang buruk pada kebanyakan masyarakat lokal mengharuskan mereka untuk selalu merasa hangat dan kering pada musim dingin. Bahan bakar dan kompor yang digunakan untuk memasak air panas, dirasa tidak terjangkau untuk orang-orang miskin, menjadikan air panas sebagai “barang mahal” bagi sebagian masyarakat lokal dan hanya diperuntukkan bagi wanita hamil, lansia, dan orang-orang yang sedang sakit.

       Hingga pada tahun 1862, Pemberontakan Taiping sepuluh tahun sebelumnya mendatangkan lebih dari 1,5 juta pengungsi ke Shanghai, menyebabkan wabah kolera menyerang Shanghai hingga menyebar ke Beijing, diperkirakan kematian mencapai 3000 orang setiap harinya. Ajaibnya, wabah kolera ini tidak menyerang orang-orang dibagian Tiongkok Selatan, hal ini dikarenakan penduduk lokal yang banyak mengkonsumsi air panas. Air panas yang dikonsumsi oleh orang-orang di Selatan Tiongkok membunuh bakteri dan kotoran dari air sungai yang saat itu digunakan sebagai kegiatan mobilisasi masyarakat lokal, membuat mereka banyak terhindar dari wabah kolera.

      Selain itu, Partai Kuomintang pada pertengahan abad ke-20 memulai gerakan “The New Life Movement” dimana gerakan ini berpedoman untuk mendorong masyarakat lokal agar hidup sehat demi tercapainya kesejahteraan sosial. Gerakan ini mengatur bagaimana  cara berpakaian, kebiasaan makan, kondisi kehidupan, dan mobilitas transportasi. Pada bagian tentang makanan, gerakan ini mengedukasi masyarakat untuk mengkonsumsi air panas, dimana memasak air dapat mencegah perkembangan bakteri dan membunuh penyakit penyebab disentri.

Mug Enamel yang dipopulerkan oleh Mao Zedong

      Lalu tahun 1952 saat Partai Komunis menguasai Tiongkok Daratan, gerakan ini semakin gencar diadakan bagi masyarakat Tiongkok, khususnya anak-anak. Mereka meluncurkan kampanye kesehatan politik dengan poster-poster yang digantung disekolah bahwa “Anak-anak harus membiasakan diri minum air panas tiga kali dalam sehari”. Petinggi-petinggi Partai Komunis seperti Mao Zedong dan Zhou Enlai sering terlihat dengan secangkir air panas dan mempopulerkan penggunaan mug enamel pada masa itu.

      Karenanya, hingga hari ini akan begitu gampang ditemukannya dispenser air panas atau orang-orang lokal yang membawa termos air panas. Dokter maupun teman-teman lokal akan selalu menyarankan untuk mengkonsumsi air panas agar terhindar dari penyakit dan menjadi obat paling ampuh saat sedang sakit. Baik itu musim panas maupun musim dingin, air panas atau 开水 akan selalu digemari dan menjadi budaya khas Tiongkok.

Juli 25, 2018

Muslim Guide di Tiongkok


Meninggalkan rumah dan merantau jauh ke Tiongkok, saya baru baru ini suka ditanyain temen-temen baru yang ada di Tiongkok tentang gimana sulitnya cari makanan halal yang sesuai selera dan engga macem macem, trus ibadah dan opini orang-orang lokal tentang kita yang tinggal di Tiongkok sendiri.

Khusus untuk calon mahasiswa baru dan teman-teman beragama islam yang ingin wisata di Tiongkok, Muslim Guide 101 spesial Summer Holiday.. (skip)..

Seperti yang kita udah tau, banyak beranggapan kalo ideologi Tiongkok yaitu komunisme, benar-benar menutup segala aspek keagamaan dan kehidupan sosial masyarakatnya. Padahal, disini mereka sesungguhnya engga dilarang buat melakukan ritual keagamaan dan sosialisasi, walaupun emang mereka dilarang secara umum untuk menyebarkan dan beribadah secara terang-terangan.

Khusus untuk muslim Tiongkok, mereka biasanya dikenali dari pakaiannya (untuk pria akan mudah dilihat dari peci bulat warna putih, dan perempuan menggunakan hijab ala ala). Di Tiongkok sendiri, ada beberapa provinsi dan daerah dengan ras tertentu sehingga orang-orang dari daerah tersebut biasanya beragama islam. Ada provinsi di sekitar Northwest China yaitu; Provinsi Gansu dan daerah khusus Xinjiang.
Orang-orang dari daerah ini mayoritas beragama islam dan tinggal menyebar di Tiongkok.

1. Makanan

 Makanan hasil akulturasi budaya Asia Tengah dan Tiongkok! Halal dan berasa dinegeri 1001 malam.

Tiongkok, China, 中国 negeri dengan sejarah lebih dari 5000 tahun ini menyimpan banyak banget hal-hal unik dan menarik untuk dibahas, budaya yang konkrit, bahasanya yang rumit, negaranya yang indah, dan juga tentunya keanekaragaman makanan yang menjadi ciri khas negeri tirai bambu ini.
Makanan halal jadi salah satu patokan untuk muslim yang sedang berada jauh dari rumah, kebiasaan jajan dan makan seperti di Indonesia yang tinggal milih lalu makan, akan sulit ditemui saat jauh dari rumah.

Di Tiongkok, bagi kalian mahasiswa baru atau yang lagi jalan-jalan bisa dengan gampangnya makan di restoran halal murah Lanzhou La Mian (兰州拉面). Di kota-kota besar seperti Shanghai, Beijing atau Nanjing yang populasi muslimnya banyak, rumah makan seperti ini ada dimana-mana, bahkan di kota tempat saya tinggal sendiri restoran halal dan murah ini dengan gampangnya ditemui dipusat kota atau jalan-jalan kecil.

 Dari jauh, rumah makan Lanzhou Lamian ini akan terlihat logo halalnya, yang masak dan yang punya restoran inipun pasti muslim.

Bagi pengguna IOS, kalian bisa mencari rumah makan halal terdekat dengan menggunakan aplikasi apple maps, lalu dengan gampangnya dituntun ke rumah makan ini. Hehe. Kalian juga bisa menggunakan Baidu Maps atau aplikasi gps dan peta di smartphone dengan bahasa mandarin, orang orang lokal juga biasanya menggunakan aplikasi ini sebagai penunjuk arah.

Selain rumah makan murah, ada lagi rumah makan halal ala Asia Tengah.  Adalah orang-orang dari Xinjiang yang berparas mirip-mirip negara tetangga seperti Kazakhstan dan Kyrgistan, mereka biasanya mendirikan rumah makan halal dengan daging kambing dan sapi sebagai hidangan utama.
Rumah makan ala Xinjiang akan ditemui dengan ciri khas sate kambing yang dibakar hingga baunya sampe kemana-mana, dan rasanya? NIKMAT! Lalu, ada juga roti nang 囊 atau makanan pokok mereka yaitu roti yang dibakar dengan wijen dan campuran susu, rasanya bener-bener gurih campur legit saat masih panas-panasnya.

 Nang (囊), roti gepeng khas rumah makan Xinjiang yang bisa dibeli dari harga 4 sampai 5 RMB




 Si Laoban (bos) yang lagi asik-asiknya ngebakar sate kambing khas Xinjiang, ada sayap ayam bakar juga yang ga kalah enak!


Rumah makan Xinjiang juga khas dengan interior ala Asia Tengah, dengan musik dan tarian tarian kayak Arabian Night tapi sebenernya khas Asia Tengah. Selain itu yang bikin asik adalah, karena muka muka orang Xinjiang lebih mirip ras Kazakhstan dan Uzbekistan, maka jangan salah kalo misal yang jual sate kambingnya adalah mas-mas ganteng keturunan dengan mata coklat dan hidung mancung.

Tips Cari Makan di Tiongkok:
  1. Jangan jajan sembarangan. Di Tiongkok yang mayoritas penduduknya engga beragama, jangan harap bakal nemuin makanan yang bebas dari daging-daging-yang-tidak-boleh-dimakan. Usahakan kalo di tempat umum hindari makanan ringan yang berbahan dasar daging, seperti sosis, abon, bakso, atau makanan dengan campuran daging. Di Tiongkok, daging babi begitu populer sehingga banyak makanan berbahan dasar daging pasti dicampur dengan daging beybi. Di Tiongkok sendiri daging-dagingan pun banyak yang dicampur, jadi kalo misal tulisannya "sosis ayam" atau si penjual ngaku-ngaku jual bakso daging sapi, bisa dipastikan makanan itu dicampur daging-dagingan lain, kesel ga sih.
  2. Minimarket buat kepepet. Untuk backpackeran di Tiongkok, biasanya makanan murah jadi andalan. Di beberapa minimarket seperti family mart atau sevel akan banyak ditemuin makanan-makanan murah dan mengenyangkan, satu hal yang perlu digarisbawahi, karena banyak makanan yang dagingnya suka dicampur campur, makanan beku seperti spaghetti bolognaise atau steik yang dijual di minimarket belum tentu halal. Mintalah bantuan kasir atau penduduk sekitar untuk ngelihat komposisi makanan. Kalau kepepet, mie instan dan telur rebus yang dijual bisa diandalkan kalo lagi laper. Dibeberapa minimarket bahkan bisa ditemui mie instan halal dengan logo halal lho.
  3. Be like a local with traditional foods. Jalan-jalan ke tempat baru, gaasik kalo ga nyobain makanan tradisional atau khasnya, di Tiongkok kalo takut sama makanan lokalnya yang mengandung babi, bisa mencoba makanan versi vegetarian. Bakpau, mie rebus, atau sup banyak yang dimasak dengan menggunakan jamur dan pokcoy (sejenis sayuran hijau). Jadi kalo kepengen nyobain masakan lokal, bisa mencoba versi sayuran atau vegetariannya.
  4. Beware of "Minyak Babi". Di Indonesia, masakan Tiongkok pasti dikenal sama bumbu-bumbunya yang luar biasa dengan teknik menumis, dan di Tiongkok sendiri penggunaan bumbu-bumbu ini memang dipake sebagai penambah dan penyedap rasa. Minyak babi dalam penggunaannya dipake orang-orang lokal untuk menumis atau campuran kue biar gurih, bahkan dibeberapa restoran, mereka biasa menggunakan minyak babi untuk campuran nasi goreng. Jadi, kalo bisa bahasa mandarin jangan malu untuk bertanya dan komplain.
  5. Sarapan pagi murah meriah. Tiap pagi dari jam 5 sampe 9 pagi akan banyak ditemui street food vendor atau kios-kios kecil jualan bakpau dan telur rebus. Di kios ini kita bisa nemuin makanan murah dan enak seperti bakpau sayuran, bakpau manis isi susu atau bakpau lobak yang lembut dan hangat, selain itu ada cakwe (油条), onde-onde (麻团), telur dadar gulung (鸡蛋饼), atau makanan-makanan kecil lainnya yang dijual dibawah 10 RMB (20 ribu) perbuah. Kalo gasuka sama makanan kecil bisa mencoba bubur nasi yang bikin kenyang, harganya pun ga lebih dari 5 RMB (10 ribu) perporsi, bubur ini juga banyak jenisnya, ada bubur ketan hitam, bubur milet, bubur labu atau bubur kacang.

2. Tempat Ibadah

 Masjid di daerah Niujie, Beijing. Masjid ini berarsiterktur khas Tiongkok, unik ya.

Selain makanan, kita biasanya yang beragama islam diwajibkan untuk mendirikan solat 5 waktu tepat waktu. Untuk teman-teman yang lagi berwisata di negara-negara dengan mayoritas muslim, masjid bukan lagi hal yang sulit ditemui. Namun di Tiongkok sendiri jumlah masjid yang akan ditemui ga segampang di Indonesia. Di kota kota besar seperti Beijing, Shanghai atau Nanjing masjid biasanya berada pada distrik atau daerah daerah mayoritas muslim, dan disekitaran masjid akan banyak ditemui pedangang pedagang makanan halal, bakpao, bebek peking, atau roti isi yang halal dan terjangkau.

Untuk di Beijing sendiri, ada masjid Niujie (北京牛街清真寺) yang terletak di daerah Niujie (牛街), di Niujie sendiri kalian bisa dengan gampang menemukan rumah makan halal dan salah satu masjid terbesar di Beijing. Niujie sendiri letaknya ga jauh dari Summer Palace lho. Lalu kalo main ke Shanghai, masjid yang gampang ditemui ada di daerah Yuyuan (豫园) salah satu tempat wisata di Shanghai ini bisa kalian tempuh dengan metro line 2, selain itu penjaga masjidnya juga ramah ramah hehe.

 Masjid di Changzhou. Lokasinya terletak di Nandajie atau salah satu pusat belanja terbesar di Changzhou.

Kalo sedang jalan-jalan dengan waktu tipis alias mepet dengan waktu sholat, enaknya sholat dijamak 2 waktu (dzuhur dengan ashar atau maghrib dengan isha) dari kampus atau hotel tempat menginap. Tapi kalo misalnya ga nemu masjid nih gimana? Kepepet time adalah langsung cari fitting room atau ruang pas di area perbelanjaan/mall. Biasanya fitting room di mall akan dilengkapi bilik-bilik kecil dengan penutup, jadi kalian bisa dengan gampang sholat disana, cukup pinjem beberapa potong baju buat dibawa ke ruang pas jangan lupa bawa scarf kemana mana ya.

3. Jilbab, Islam dan Kepercayaan di Tiongkok

Setiap hari Jum'at, area pelataran sekitar masjid di Changzhou akan ramai oleh kios-kios kecil yang menjual aneka macam daging halal, makanan halal, ataupun alat sholat.

Masyarakat Tiongkok pada umumnya cenderung cuek dan gamau tahu, menurut teman-teman saya yang udah lama tinggal di Tiongkok sebagai seorang hijabers no problemo. Pada awalnya mungkin emang banyak mata tertuju padamu *kok kaya miss Indonesiah* namun sebenernya tatapan mata orang orang lokal ini bukan menunjukan rejection atau penolakan, malah mereka cenderung penasaran dan bingung, banyak masyarakat lokal malah gatau jilbab itu apa dan kalian itu siapa, so stay cool!

Jilbab yang dikenakan oleh muslim di Tiongkok sendiri berbeda dengan jilbab di Indonesia atau negara-negara mayoritas, oleh karena itu biasanya hijabers seperti teman teman saya akan banyak ditanyain local strangers dijalan atau dimana saja, "kalian darimana?" "kenapa pake penutup kepala?" atau malah "rambutnya kok ditutupin?" adalah pertanyaan pertanyaan khas orang lokal (biasanya orang orang tua dan manula yang kepo dan nanyain ini).

Pengalaman saya yang pernah bekerja part-time disini, saya pernah minjem gudang penyimpanan teh di belakang untuk sholat ke bos saya, dan mereka benar-benar ga masalah untuk hal ini. Saya memang agak risih sih ditanyain tentang kepercayaan saya dan masalah sensitif tentang agama, tapi karena mereka disini rata-rata atheist dan its not even something to avoid when they ask about it, why not.

Lingkungan kerja saya adalah 10000% lingkungan kerja orang Tiongkok, otomatis saya harus menyesuaikan dengan waktu orang sini. Umumnya masyarakat disini bekerja 8 jam dengan waktu istirahat 30 menit sampai 1 jam (tiap tempat berbeda-beda) yang digunakan untuk makan siang dan tidur siang. Dan waktu istirahat ini bisa saya gunakan untuk sholat atau lainnya.Saat kerja, banyak teman-teman dan atasan saya yang bingung tentang apa itu agama, karena emang dilarang oleh partai dan tertutup tentang keyakinan individual dan mengagungkan tuhan, mayoritas masyarakat di sini juga gatau apa-apa tentang agama. Jadi, islamophobia di Tiongkok sendiri menurut saya jarang terjadi. Bahkan ada beberapa teman saya yang bilang kalo orang orang yang punya agama itu orang-orang yang punya prinsip "that was so cool you have your own principal and something to believe in".


Tanya-tanya soal Tiongkok dan budayanya?
Tinggalkan komentar dan sarannya di kolom komentar dibawah :))

Mei 10, 2018

Cerita Tentang Tulisan(洋笔书江苏 — 江苏省外国人征文大赛)



Akhir tahun lalu, Pemerintah Provinsi Jiangsu mengadakan lomba menulis essay bahasa mandarin tentang impression dan kehidupan orang-orang asing yang tinggal di Provinsi Jiangsu, lalu tepat di bulan April tahun ini pengumuman pemenang lomba diumumkan.
Lomba ini dibuat bertujuan untuk mengenal dan mempererat hubungan antar warga lokal dan warga asing yang tinggal di Jiangsu.

Pada lomba yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Jiangsu ini, terpilihlah 6 orang untuk juara pertama, 10 orang untuk juara kedua, 15 orang untuk juara 3 dan 20 orang untuk kategori juara harapan. Essay yang dilombakan disini bertema tentang kehidupan para teman-teman yang berasal dari seluruh dunia dan dari berbagai profesi yang tinggal di Jiangsu, jumlah total karya tulis yang diterima panitia berjumlah lebih dari 300 essay!

can you spot meh?

Dan, kehormatan tersendiri bagi saya untuk mendapat tempat pada posisi juara ketiga dengan 14 orang lainnya yang berasal dari negara-negara berbeda.

Tema essay yang saya buat hanya tentang bagaimana feminism berkembang di Tiongkok, begitu enaknya hidup jadi cewe dan bagaimana saya melalui hari hari saya di sini yang saya tulis dalam bahasa mandarin. Sejujurnya, saya banyak menggunakan mesin terjemahan baidu (salah satu mesin pencari di Tiongkok) sebagai penerjemah tulisan saya.

Hal yang membuat saya bahagia disini adalah, perbaikan gizi. Lagi, tentang makanan!

Kebahagian hakiki mahasiswa akhir bulan


Pemenang lomba essay ini mendapat priviledge dari pemerintah kota setempat untuk makan malam, jalan-jalan dan sebagainya.
Untuk Pemerintah kota Changzhou sendiri, saya bisa jalan-jalan gratis keliling Nanjing (Ibukota Provinsi Jiangsu, dan tempat penyerahan hadiah) lalu makan malam bareng pemenang lomba, dan yang pasti awarding ceremony dengan sertifikat dan buku khusus dengan tulisan para pemenang juara pertama, kedua, dan ketiga. Akhirnya, saya punya buku sendiri.

 Buku ini juga dibagikan cuma cuma untuk sekolah-sekolah di seluruh provinsi Jiangsu.


Lalu, yang menarik dari sini adalah saya bertemu dengan banyak sekali pemenang lomba yang sudah lama tinggal di Tiongkok, banyak dari mereka adalah manajer perusahaan, staf pengajar professional, entrepreneur, atau bahkan pelajar sama seperti saya. Saya juga bertemu dengan beberapa teman satu negara yang juga mendapatkan predikat juara lainnya.

 Teman-teman pemenang dari Jepang dan Tanzania.


 Saya juga ketemu sama teman dari negara tetangga, Malaysia. Oops, yang paling kanan itu dari Tanzania.


 Professor Linda Williams (tengah), yang dapet juara pertama ini ternyata dapet predikat privileged citizen dari Pemerintah Kota Changzhou karena dedikasi beliau disini.


Selain itu, pihak kampus saya (Changzhou Institute of Technology) juga menyebarkan artikel saya dalam bentuk koran dan tulisan di web. Bahagia? Not really, I got a lot of homework to do first. 

 Pihak penyelenggara essay ini bener-bener total buat pemenang, saya serasa kaya lagi mau launching buku deh.
 

Kayak kata penulis favorit saya, Pramoedya Ananta Toer; "menulislah untuk keabadian" bukan buat makan gratis *oops

September 20, 2017

Jadi Bule di Asia Part I : Awal Kedatangan


20 September 2016, Tepat setahun yang lalu saya menginjakkan kaki saya di Tiongkok sendirian, walau bukan jalan-jalan liburan seperti biasanya, hal pertama yang saya rasakan adalah... BERBEDA!


I left every memories, love, and comfort zones away


Keberangkatan

Tahun lalu, karena berpergian sendirian dan tidak mengenal Tiongkok secara umum, terlebih lagi kapasitas saya dalam berbahasa mandarin yang masih sangat sangat minim (cuma bisa ngomong nihao doang) ini, saya memutuskan untuk langsung memilih rute jalur udara langsung ke kota tujuan saya, Changzhou.
Saya memilih rute maskapai yang tergolong murah untuk penerbangan langsung ke Changzhou, yaitu China Southern Airlines. Rute penerbangan saya dimulai dari Jakarta ke Guangzhou lalu langsung ke Benniu Airport-nya Changzhou. Tapi, untuk rute penerbangan Guangzhou - Changzhou ternyata baru berangkat pada esok hari, alias transit inap!

Akhirnya, bermodal asal pergi dan sampe alhamdulillah, saya pergi dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 1 siang dan tiba di Guangzhou sekitar pukul 7 waktu Tiongkok. Sebelumnya saya sudah apply untuk beberapa hotel yang akan saya pakai menginap malam itu, karena memang dari pihak CSA telah memberikan free accommodation untuk penumpang yang transit lebih dari 12 jam.

Makanan!!

Saat saya keluar kabin pesawat, dari garbarata saya udah disambut sama petugas bandara sambil bawa papan dengan nama saya dan beberapa orang yang transit lainnya, I feel surprised!
Si petugas bandara yang tampilannya masih kayak mas-mas sipit umur 25-an ini ngebawa saya dan beberapa orang lainnya buat ke imigrasi dan custom setempat, karena saya lama banget disini buat ngantri dan ngurusin koper (untungnya dibantuin sama si mas sipit ini), akhirnya saya bisa keluar dan nyetak boarding pass lagi di konter check in sekitar jam 10-an. Waktu itu koper saya yang memang di bagasikan langsung dibawa dan saya dikasih boarding pas untuk penerbangan besok pagi!
Sebelumnya, saya masih harus ngikutin mas ini ke customer service-nya CSA buat ngurusin akomodasi hotel dan shuttle bus airport buat besok.

Kondisi Customer Service CSA untuk melayani penumpang transit inap.

Saat tiba di customer service, para staff yang bahasa inggrisnya ini lumayan pas-pasan, mengarahkan saya untuk ngambil hotel dengan jarak 3-5 km dari bandara, mereka juga menawarkan shuttle bus yang akan berangkat pukul 6 pagi dari hotel, asyiknya mereka juga menawarkan saya breakfast halal, sayangnya karena jam keberangkatan pagi dan harus buru-buru, saya sepertinya engga sempet untuk breakfast dan langsung caw ke bandara.

Perjalanan saya naik shuttle bus dari Bandara Baiyun, Guangzhou menuju hotel.


Lalu waktunya tiba di hotel, saya diharuskan menunggu karena kondisi penumpang yang menginap dihotel yang sama juga lumayan banyak. Lalu, pukul 12-an saya udah masuk kamar hotel yang tenyata jenis twin bed. Besar, nyaman, dan dingin! hehehehe.
Malam itu saya melahap habis rawon yang dibawa dari Indo, sekalian ngurangin jatah barang bawaan. Dan.. mulai malam itu juga saya selalu on VPN gratis di hape.


Sayangnya, kasur yang diisi cuma satu :( 


Kamar twin yang bagi saya nyaman banget. 


Kamar mandi dengan kaca yang menghadap langsung ke ruang tidur.

Paginya, pukul 5.30 saya sudah ada di lobby untuk berangkat dengan shuttle bus. dan tepat pukul 6 lewat 3 kita berangkat. Penerbangan dari Guangzhou ke Changzhou memakan waktu sekitar 2 jam, dan.. here's one of my tragedy happened! Karena saya muslim vegetarian dan engga sempet bertanya sama pramugarinya, saya kemakan salad dengan topping pork. Awalnya, saya kesel tapi karena ketidaksengajaan dan udah kemakan, jadinya saya tidur sambil menahan mual kala itu, air minum pun semuanya abis diminum.

Sekitar pukul 11 pagi saya tiba di Changzhou dan disambut dengan papan nama dari Changzhou Institute of Technology dan nama lengkap saya. So.. here's the next step begin.


Welcome to Changzhou Institute of Technology

Alias Selamat Datang di Institut Teknologi Changzhou, hal pertama yang menyambut saya disini adalah beberapa mahasiswa pirang di lobby yang sedang ngobrol dan kamar asrama mahasiswa internasional yang hanya diisi oleh 2 orang dan fasilitas yang bisa dikatakan standar "internasional".

Saat datang, saya belum punya roommate dan masih harus nunggu temen baru. Didalam tas hijau terdapat bedding; bed cover, duvet, selimut, bantal dan sarung bantal masing masing satu pasang.  


Meja belajar bagi tiap orang! Saya baru disini menggunakan meja belajar dengan baik :') Selain itu, ada lemari baju, rak penyimpanan kecil yang diletakkan disamping masing masing ranjang, dan lemari penyimpanan barang dapur. 


Toilet yang bikin saya ngga mau nahan pipis lagi.

Fasilitas asrama bagi mahasiswa asing disini yaitu tempat tidur gede (banget buat saya),  lalu kamar mandi didalam kamar dengan air panas, pendingin ruangan (yang juga berfungsi untuk penghangat ruangan dikala musim dingin), WIFI yang awalnya 24 jam dan karena mengikuti jam tidur mahasiswa disini maka distop setiap weekday sampe jam 11.30, lalu balkon yang saya suka pake untuk make-up dan stalking cowo ganteng, dan yang terakhir.. ada meja belajar + lemari gede.

Well, saya jadi bule yang dapet fasilitas hotel kaya gini selama 5 tahun. Untuk fasilitas umumnya, asrama mahasiswa asing disediakan dapur umum dengan microwave, kulkas dan wastafel disetiap lantainya, lalu ruang laundry umum dan ruang belajar umum, selain itu kita juga dapet lift! FYI, untuk mahasiswa anak lokal, mereka hanya disediakan tangga, 4-8 orang perkamar, tanpa dapur, dan kamar mandi publik alias pake bareng diluar kamar.

Dengan kenyamanan kaya gini, saya yang dateng engga bayar atau bahasa kerennya beasiswa ini penasaran dengan harga asrama mahasiswa bagi tiap orangnya. Untuk perorang, asrama disini dibayar dengan biaya sekitar 4000 RMB atau 8 jutaan pertahunnya.


Meeting bareng temen-temen baru dari Kazakhstan, Uzbekistan, dan Rusia. Yang pake baju oren jadi crush pertama saya disini :3


Pada hari-hari awal kaya gini, saya belajar buat kenalan bareng anak-anak dari negara mayoritas. Total mahasiswa asing di kampus pun belum terlalu banyak, sekitar 160 dan hanya sebagian kecil yang bisa berbahasa inggris, walau kaya gitu saya juga berusaha buat kenalan dengan belajar beberapa kosakata dasar mereka.



Hadiah kecil hasil pengaplikasian suka menyapa dan ngobrol sama temen baru.


Selain ngobrol dan kenalan, kita juga suka menghabiskan waktu buat jalan bareng dan ngeteh bareng! My favorite part from this; TEA TIME.
Teman-teman dari Kazakhstan, Uzbekistan dan teman baru dari Turki sering cerita bahwa mereka punya waktu Tea Time sehabis dinner atau sebelum dinner bareng keluarga mereka, jadinya saya yang punya roommate dari Kazakhstan ini-pun juga ketuleran suka nge teh bareng mereka.


Teh celup yang dibawa mahasiswa exchange dari Turki. 


Pada acara ngeteh kaya gini, kita biasa tuker-tukeran makanan manis, kue, snack, atau buah trus ngobrol deh.


Tentunya selain seneng-seneng kaya gini, para mahasiswa asing yang biasanya paling susah diatur ini banyak duka-dukanya juga, kasusnya seperti beberapa temen yang engga terbiasa dengan makanan Tiongkok yang kata mereka pedes dan beraroma kuat, atau ada beberapa temen yang memutuskan untuk berhenti kuliah karena ngga bisa mengikuti pelajaran bahasa mandarin yang katanya terlalu sulit.

Terlepas dari semua itu, menjadi bagian dari "orang asing" engga selalu tampak asing ataupun aneh. We feel like its another type of living.

Juli 08, 2017

MEH As An International Student



呵呵呵 (baca: he he he)
Setelah dihitung-hitung dengan total hidup sendiri di negara orang selama kurang lebih 10 bulan, saya dinyatakan lulus HSK 4! (level berbahasa mandarin)
Dengan skor yang sangat standar alias pas-pasan, saya lulus kelas bahasa tahunan yang ada dikampus dan siap untuk penjurusan September ini, artinya...
Kita balik jadi anak kuliahan lagi.

Disini, saya memilih jurusan Hotel Management dengan masa studi 4 tahun dan 1 tahun masa precourse bahasa mandarin, jadi total studi saya disini kira-kira 5 tahunan. Well, standar lahh.
Selain belajar sesuai jurusan yang dipilih, jadi mahasiswa asing itu juga banyak untungnya, haha.
Banyak yang bingung, bedanya jadi mahasiswa asing dan mahasiswa biasa itu gimana? Buat saya yang memang telah mengemban tugas tersebut (caileeee) hal ini bener bener beda dan menarik buat di coba.
Satu tahun menjadi mahasiswa biasa di Indonesia, trus pindah haluan jadi mahasiswa internasional disini, Tiongkok!
 

Lets see....

1. Travelling dan Cuci Mata

The Bund, Shanghai di malam hari

Selalu dan selalu, saat ke negeri orang sebagai turis yang apa-apa dibatasi, saat menjadi mahasiswa asing atau belajar di negeri orang, akan membuat kalian serasa jalan-jalan like a local.
Untuk beberapa tempat wisata, mereka kadang memberikan diskon tiket masuk untuk mahasiswa atau pelajar, termasuk mahasiswa asing dongg.
Hal ini juga saya manfaatkan untuk jalan-jalan dan membuka pengalaman baru di negeri orang.

Tongli Canal Town, terletak di Suzhou sekitar 80 kilometer dari Changzhou

Pas jalan-jalan, cobain local food dan beli oleh oleh juga biasanya jadi daya tarik. Untuk jalan-jalan atau travelling, orang-orang lokal disini juga sebenernya sangat suka jalan-jalan, apalagi muda-mudinya.
Buktinya, dimana-mana saya lihat lokasi wisata, pasti banyak mahasiswa yang jalan bareng pacar atau temen-temen mereka. Hal ini juga sebenernya karena transportasi yang memadai mereka buat pergi. Gimana enggak, kemana-mana bisa pake kereta cepat yang udah menghubungkan satu kota ke kota lainnya.

Salah satu bangunan kuno di Huishan, Wuxi


Saat dinegeri orang, saya membuktikan bahwa banyak-banyak travelling dan jalan-jalan, akan tau kalo sebenernya ciptaan tuhan itu banyak dan indah-indah (ahayyy) termasuk manusianya :p


2. Cultural Exchange With Another International Students

Saya bersama teman-teman dari Kazakhstan saat acara parade sekolah


Datang dari negara yang berbeda-beda trus berkumpul di satu titik di Tiongkok, kami para mahasiswa asing dituntut buat pinter pinter komunikasi, disinilah skill komunikasi dan adaptasi saya dipake.
Di kampus sendiri yang total mahasiswanya engga terlalu banyak, sekitar 160-an, mereka datang dari Kazakhstan, Uzbekistan, dan Rusia dimana... mereka sama-sama pake bahasa Rusia dan bisa ngerti satu sama lain. 

Tiap tahun, kampus juga mengadakan student exchange program dan summer course bagi mahasiswa dari Korea dan Jepang, jujur.. bahasa Inggris saya bener-bener engga kepake sama mereka.
Untuk student exchange program ini, kampus biasanya kedatangan mahasiswa dari Turki, Denmark dan US dengan durasi 3 minggu sampe 4 bulan. Yah.. Saya baru ngerasa bahasa Inggris saya kepake pas bareng mereka. Asiknya, kalo ngobrol sama mereka dalam bahasa Inggris, orang lokal bakal langsung ngeliatin dan it feels like a privilege for us, jajaja.

 Mahasiswa asing biasanya paling berisik, paling ribet, dan paling asik ahaha

Karena jumlah mahasiswa asing yang sedikit daripada mahasiswa lokal, otomatis hak mahasiswa asing biasanya didahulukan :p
Tiap tahun, sekolah juga mengadakan acara tahunan khusus buat mahasiswa asing disini, salah satunya Cultural Festival.
Sesuai namanya, acara ini khusus untuk menampikan kultur dan budaya dari masing masing negara. Tiap kampus di Tiongkok pun biasanya memang mengadakan acara ini untuk penunjang pertukaran budaya mereka.
Tahun ini, karena saya engga bisa nari, dan bawa baju batik pas-pasan akhirnya saya cuma nyanyi lagu daerah. 


 Bersama teman-teman dari Kazakhstan yang pake baju tradisional mereka, eitt.. kecuali.

Saat bareng sesama mahasiswa asing pun, hal yang paling saya suka adalah saat mereka ngomongin makanan tradisional. Karena mereka disini banyak yang engga terbiasa makan makanan lokal, so they prefer to cook by themselves. Kalo beruntung, saya bisa masak bareng mereka dan cicip-cicip makanan mereka yang unik-unik.

Teman-teman saya dari Kazakhstan juga sering cerita tentang negara mereka contohnya konsumsi daging kuda yang tinggi di negara mereka, ras mereka yang kaya campuran Uyghur-nya Tiongkok, musim panas yang bisa sampe 45 derajat atau musim dingin yang sampe -35 derajat, bener-bener ngomongin hal yang berbobot!

3. Cultural Exchange with The Local

 Kelas origami gunting bareng mahasiswa lokal

Pastinya kalo jadi mahasiswa asing, hal selanjutnya yang dipelajari adalah "be like a local"
Bagi saya belajar adat dan budaya orang Tionghoa bukan hal yang baru, tapi.. kalo di negaranya langsung? Its totally interesting!


Menggambar bunga Hongmei ala ala Tiongkok lama.


Para mahasiswa asing sering diajak mahasiswa lokal untuk belajar adat dan budaya mereka, misalnya makan menggunakan sumpit dan penempatan sumpit yang benar, menulis kaligrafi huruf mandarin, menggambar bunga hongmei ala ala Tiongkok, atau belajar origami guntingnya Tiongkok.



Mari menggambar! 

 Mengenal budaya baru dan mengenalkan budaya baru ke orang baru memang bikin bahagia! Sebagai mahasiswa asing yang engga pernah lihat dan pengen nyoba, ke-excited-an mahasiswa asing jadi daya tarik kampus buat ngadain hal-hal yang berbau cultural exchange dan internasional. Yah, itung itung buka pikiran mahasiswa lokal biar ga selalu kepentok sama orang lokal (maksudnya?)

Ini jenis tulisan Tiongkok kuno yang digunakan 2000 tahun yang lalu, and we've learnt it!


 Secara mandarin harusnya ditulis: "花好月圆" yang digunakan untuk ucapan bahagia di event khusus seperti pernikahan.


 Bareng pengajar profesional yang sengaja didatangkan sekolah khusus buat mahasiswa asing :p


Diskusi bareng mahasiswa lokal dan mahasiswa asing
 

Mereka juga suka menghabiskan weekend malem bareng kita di ruang belajar, asal niat ngomong doang.


Kemampuan bahasa Inggris mereka yang pas-pasan jadi ngebuat mahasiswa asing dipaksa buat belajar ngomong bahasa lokal, such a great effort!


Weekend and killing the time together!


4. The Excitement of Meeting "Green-Passport Holder" aka. Indonesian

Makan dan ngumpul bareng? Why not.

2500 mil dari Indonesia itu bukan jarak yang kalo naek kereta cepat bisa di tempuh dalam waktu seharian. Karena sama-sama jauh dan sama-sama pemegang kewarganegaraan yang sama, biasa orang-orang Indonesia akan jadi teman yang bikin kompak dan menyenangkan. why?

Satu bahasa, satu bangsa, satu pikiran (kalo ngomongin makanan) jadi hal yang ngebuat unik saya dan teman-teman dari Indonesia disini. Untuk curhat, mereka akan jadi pendengar yang baik, karena emang bahasa yang digunakan lebih stabil dan masuk di hati, istilah kerennya mengerti satu sama lain (anjaay).

 Kaos tumblr yang ditemukan di salah satu toko baju di Nanjing, ditulis dalam bahasa Indonesia, mungkin bagi orang lokal menarik kaya bahasa Inggris ya!


Pada saat beberapa perayaan hari-hari besar di Indonesia, Idul Fitri, Natal, atau 17 Agustusan, pihak kedubes atau organisasi pelajar disini akan mengadakan event-event yang bikin suasana kangen kampung halaman jadi ga kerasa.

 Ketemu orang-orang satu bahasa, satu nusa, satu bangsa di Wisma Indonesia, Shanghai.


Idul Fitri saya tahun ini yang dilalu pada masa panas-panasnya summer, dibikin meriah dengan bertemu sesama mahasiswa dari Indonesia yang juga merasakan hal yang sama! Ketemu bareng orang-orang Indonesia yang cuma sekedar jalan, atau kerja dimana juga membuka wawasan baru, siapa tahu ada yang nyangkut. AMBLAS!

5. Its All About Out From Your Comfort Zone


Slightly happy but inside I'm terrible :p

Jauh dari rumah, sendirian, tempat yang baru, Does these words sound too terrific?
Saat memutuskan untuk kuliah diluar negeri, hal pertama yang saya rasakan disini adalah; Kesepian.
Pada awal-awal bulan penyesuaian dengan teman-teman baru yang bukan satu negara, bukan satu bahasa, bukan satu ras, kadang saya merasa saya benar-benar sendiri disini. Apalagi kalo masalah keyakinan, ah..
Tapi, its all about your choice. Semua yang dirasakan memang menguji mental dan tekad.
Di kampus sendiri, saat ini jumlah mahasiswa dari Indonesia cuma 3 orang, dan yang satu angkatan dengan saya cuma satu orang. Is it good or bad? Saya rasa everything has two sides hehe.

Di Indonesia, yang kemana-mana bareng temen, makan ditemenin, jalan ditemenin, sampe ke wc juga ditemenin, saat saya disini.. NO more.
Di Indonesia, yang pulang kerumah baju tinggal pake, makan tinggal makan, atau tidur yah tinggal tidur, saat saya disini.. You'll get the consequence.
Di Indonesia, yang orang tua tinggal kasih uang jajan bulanan, orang tua yang ngajak makan bareng, orang tua yang ngomel kita telat tidur or etc, saat saya disini.. Missing as hell!

Teman saya dikala sepi melanda tiba-tiba, psstt... dipelihara secara diam-diam.

Saya  tinggal di dormitory khusus mahasiswa internasional, tiap kamar diisi dengan 2 kasur alias 2 orang. Kedengeran asik kan? Nyatanya, saya sering dapet clash dan misunderstanding dari temen sekamar yang engga senegara ini.

Temen-temen di Indonesia yang sering liat-liat instagram saya kadang bilang "ah iri!" or "jalan-jalan terus, have fun yaa" whatever they call it, nyatanya instagram atau media sosial hanya tembok yang dilukis sebagai penebar pride.

Terlepas dari semua itu, I never regret my choice to be here. Dan you know.. I'm totally happy with this choice.